tips belajar: Minat baca


Oleh: Andrias Harefa*

Amir Effendi Siregar dalam sebuah tulisan di majalah Warta E-konomi yang dipimpinnya, pernah menjelaskan bahwa ada 4 tingkat dalam komunikasi, yakni: pertama, tingkat intrapersonal; kedua, tingkat interpersonal; ketiga, tingkat group; dan keempat, mass communication. Dan kalau pendapat Siregar ini mau lebih disederhanakan, saya kira komunikasi dapat dibedakan dalam dua kategori saja, yakni: internal communication yang sama dengan intrapersonal communication, dan external communication yang mencakup interpersonal-group-mass communication.

Dalam hal ini buku, surat kabar, dan majalah-tabloid dipahami sebagai soal komunikasi massa, tingkat keempat atau kategori kedua yang saya sebut di atas. Sama halnya dengan soal mendengarkan radio, menonton televisi, dan berkomunikasi lewat internet atau pun dengan menggunakan alat komunikasi multimedia yang lebih canggih (baca: rumit). Dalam hal ini salah satu pertanyaan yang sering muncul beberapa tahun terakhir ini adalah mengapa buku, surat kabar, dan majalah-tabloid yang sempat membanjiri pasar di era serba bebas paska Orde Baru sangat banyak yang tidak laku dijual sehingga penerbit dan perusahaannya bangkrut?

Terhadap pertanyaan ini Siregar agaknya melihat proses komunikasi sebagai akar masalahnya. Menurutnya, proses komunikasi yang dominan dalam budaya kita sepanjang Orde Baru adalah proses top down dan bukan bottom up. Proses top down ini menggunakan paradigma propaganda atau “misionaris” dalam komunikasi. Fungsi media yang diutamakan adalah fungsi edukasi. Hal ini berbeda dengan proses bottom up yang mengutamakan kepentingan khalayak pembaca ketimbang apa maunya “atasan” dan “penguasa”, termasuk penerbit atau pengelola media. Disini fungsi media sebagai saluran informasi dan rekreasi juga diakomodasi secara proporsional. Yang diutamakan adalah kepentingan dan kebutuhan segmen pasar yang dilayani media terkait. Dan disitulah masalahnya. Kebanyakan media cetak diterbitkan tidak dengan sungguh-sungguh memperhatikan minat dan kebutuhan segmen yang dibidik, sehingga masyarakat tidak berminat membacanya. Jadi, pertama-tama bukan soal minat baca.

Adalah benar bahwa potensi pasar atau pembaca media cetak di tanah air, jika diukur dari daya beli dan tingkat pendidikan yang masih sangat rendah jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Data BPS menunjukkan jumlah anggota masyarakat yang tamat SMU dan bekerja sekitar 20 juta orang. Distribusi media cetak juga masih terpusat di Jakarta (60%) dan Jawa (+25%). Belum lagi krisis yang ikut menurunkan daya beli masyarakat. Namun, mengkambing hitamkan minat baca masyarakat mungkin bukanlah alasan yang dapat dipertahankan secara rasional. Begitu?

pembelajaran: makna belajar

Kata “belajar” dalam kamus Poerwadarminta (1953) diberi penjelasan singkat “berusaha (berlatih dsb) supaya mendapatkan sesuatu kepandaian”. Dan bila dilacak dari kata dasarnya “ajar”, maka “belajar” diberi arti: (1) berusaha supaya beroleh kepandaian (ilmu dsb) dengan menghafal (melatih diri dsb), seperti dalam “belajar membaca” atau “belajar ilmu pasti”; dan (2) berlatih, misalnya dalam “belajar berenang” dan “belajar berkenalan”.

Dua kata dalam bahasa Inggris yang paling sering diterjemahkan sebagai “belajar” adalah “learn” dan “study”. Kamus Hornby (1985) memberi arti kata “learn”: (1) gain knowledge of or skill in, by study, practice or being taught; (2) be told or informed. Kata “learning” kemudian diberi arti “wide knowledge gained by careful study”. Sementara kata “study” sebagai kata benda diberi arti: (1) devotion of time and thought to getting knowledge of, or to close examination of, a subject, esp from books; (2) something that attracts investigation; that which is (to be) investigated; (3) be in a brown; (4) room used by sb for reading, writing, etc; (5) sketch etc made for pratiuce or experiment; piece of music played as a technical exercise; (6) earnest effort. Sedang sebagai kata kerja “study” diberi arti: (1) give time and attention to learning or discovering something; (2) give care and consideration to; (3) studied, intentional, deliberate.

Dengan memperhatikan pengertian kamus di atas, tidak terlalu aneh jika sebagian (besar?) anggota masyarakat mempersamakan begitu saja kata “belajar” dengan “sekolah”. Bukankah “sekolah” umumnya (dari tingkat SD sampai universitas) dipahami sebagai tempat “belajar” dalam arti memperoleh ilmu pengetahuan alam, sosial, dan lainnya, secara formal? “Belajar” juga dipersamakan dengan “kursus” dan “pelatihan” dalam arti berlatih untuk memperoleh keterampilan tertentu, baik yang bersifat teknis seperti kursus komputer, maupun yang non-teknis seperti pelatihan komunikasi dan manajemen, yang sifatnya non-formal. Masalahnya, dengan mempersamakan begitu saja makna “belajar” dengan proses pendidikan yang bersifat formal dan non-formal, kita bisa melupakan sama sekali dimensi informal dari pendidikan yang justru paling penting dan merupakan dasar dari keduanya.

Karena itu untuk mudahnya saya mengusulkan agar kata “belajar” kita pahami dalam sedikitnya empat arti, yakni: pertama, mengejar pengetahuan diri sebagai manusia (learning to be); kedua, memperkuat solidaritas dan tali silahturahmi sebagai mahluk sosial (learning how to live together); ketiga, meningkatkan pengetahuan (learning how to think and learn); dan keempat, meningkatkan keterampilan (learning how to do).

Arti pertama dan kedua menunjuk pada dimensi informal (baca: pendidikan), yakni proses pembelajaran diluar lembaga-lembaga formal maupun non-formal. Arti ketiga menunjuk pada dimensi formal (baca: pengajaran), dan arti terakhir menunjuk pada dimensi non-formal (baca: pelatihan). Jadi, “belajar” yang sesungguhnya tidak dapat dan tidak mungkin dimonopoli sepenuhnya oleh lembaga-lembaga persekolahan yang formal itu. Tidak juga cukup bila ditambahkan dengan pelatihan-pelatihan di lembaga non-formal, tetapi harus berbasiskan keluarga dan masyarakat dimana hubungan antar

pantun

jika ada jarum yang patah jangan di simpan didalam hati.

jika ada kata yang salah jangan disimpan di dalam hati

bacaan

cerpen

jenis tense

1. simple present tense

2.present continouns

dll..

resep kue beng2beng

bahan:

kacang tanah,mentega,telur ayam,gula pasir

sistem operasi

sistem operasi terdiri dari

- windows

- linux

teka-teki

1.buah apa yang didalamnya ada kolamnya.Jawab:Buah kelapa

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.